Sebuah senang

Menyenangkan ya rasanya saat kita bertemu dengan seseorang setelah sekian lama dan dia berhasil membuat kita meletup-letup saking bahagianya. Seperti seminggu terakhir saat saya bertemu sahabat dekat di sebuah episode makan siang, saat teman lama melemparkan ‘buzz’ untuk bertukar kabar  dan saat seseorang yang sudah saya anggap kakak tanpa terduga menghubungi ponsel saya untuk berbincang sekitar setengah jam. Dan mereka … bukan hanya membuat saya girang tidak kepalang tapi juga membangkitkan kembali gairah saya untuk menulis lagi…

 Untuk kalian, seluruh sahabat yang selalu menghuni tempat spesial di hati saya…

Advertisements

Rana.Radya.Hujan (bagian 1)

Rana

Rana tidak senang dengan hujan.
Buatnya hujan itu menyebalkan. Basah, lembab, bikin susah 
kalau dia harus segera pulang ke rumah.
Seperti sore ini.
"huh, kenapa harus turun hujan sekarang.
Aku harus bergegas pergi..".
Rana mengomel sendiri.
Seseorang mengamatinya dari jauh sambil tersenyum.

Sudah limapuluh menit, Rana termangu di depan kantornya. 
Tubuhnya sudah terbalut jaket hangat, dan sebuah payung 
panjang hanya dimainkannya berkali-kali.
"Kalau hujan begini, enaknya duduk di seberang sana sambil 
minum kopi.." wajah itu menyapaku hangat sambil menunjuk ke 
arah cafe di dekat kantor.
Rana tersenyum. "Tapi menuju ke sana saja membuatku basah..
i dont want to look wet.."
Wajah itu berujar lagi "Sekali-sekali, dilawan dong rasa 
nggak sukanya..kamu kan belum coba.."
"Namaku Radya, kamu siapa?"
Aku menjawab cepat "Rana. Kirana Andini."
Karena sudah bosan menunggu hujan reda, aku mengikuti 
langkahnya menuju cafe.

Cafe ini unik untuk pecinta kopi. Pengunjung bebas 
berekspresi untuk meramu minuman favoritnya.
Seperti Radya yang begitu mahir meramu kopi. Sedikit 
creamer, kayu manis, dan taburan coco granule membuat 
indah tampilan kopinya.

"Nih, minum..Jangan sebut aku Radya, kalau kamu bilang ini nggak enak.."
Aku menyeruput kopi perlahan. Hmm, memang nikmat, tapi 
aku tidak ingin tergesa memujinya.
"Mayan lah, untuk pengusir bete.."
Radya tergelak. "Bilang Lumayan kok habisnya cepet.."
Giliran aku yang tertawa "Biarin, soalnya kamu sudah membuat 
aku basah malam ini, dan aku sebel"
"Ya ampun Rana, hujan ini indah, berkah, cantik..kenapa kamu sampai 
segitu kesalnya sama hujan sih.."
Aku cuma mengangkat bahu. Baru kali itu aku merasakan 
atmosfir berbeda di kala hujan.
=== 
Sebagai karyawan baru, aku tidak pernah tahu posisi Radya 
di kantor ini. Dia cuma pernah melihat lelaki berparas 
tampan itu  beberapa kali duduk di depan layar 
komputernya sebelum peristiwa hujan kemarin. 
Aku jadi penasaran.
Siapa ya dia. Hari ini aku harus tahu dengan lengkap.
Sayangnya tumpukan pekerjaan dari Pak Boy membuatku 
tenggelam seharian di depan komputer.
Boro-boro investigasi, melihat wajah Radya pun tak 
sempat. Sorenya, Aku pun bergegas pulang ketika langit 
sudah mulai gelap.

"Bang, kok angkotnya belum lewat juga sih, udah berjamur nih di halte". 
Aku memang sudah akrab dengan Mas Jo yang berjualan 
minuman di halte ini.
"angkot'e mogok mbak'e..gak ono sing liwat"
Hah, mogook?..Aduuhhhh Mas kenapa gak ngomong dari 
tadi sih, kan aku bisa nebeng temen..." Aku mulai 
bersungut-sungut.
"ora ngerti nek mbak'e nunggu angkot kok" Mas Jo menjawab sekenanya
"Yo wis Mas, aku jalan kaki aja.."
Aku pun berjalan cepat ke arah jalan raya. Paling 
tidak aku bisa naik taksi kalau semua angkot mogok. 
Tes..tes..tes.. gerimis mulai turun. Arrrrgghhhhh.... 
Aku kelimpungan mencari tempat berteduh. 
"Tuh kan, hujan itu cuma bikin repot,  bisa-bisanya Radya bilang ini indah.." 
Untung halte berikutnya cukup dekat. Rana memilih 
berteduh disana. 
Sembari mengeringkan badannya dengan tissue, 
tiba-tiba Rana tersentak.
Dia ada di depanku.

"Kenapa? Kaget liat aku muncul disini?..Kan sudah kubilang, aku ini penyuka 
hujan,kalau ada hujan, Radya pasti datang.."
Aku melengos sebal 
"Kamu itu kayak hantu, suka tiba-tiba muncul. Gak jelas.."
"Tapi suka kaan...?" Radya memasang muka jahil.
"GE-ER!". Dia tambah tergelak-gelak. Entah kenapa aku suka 
mendengar tawanya.
Tapi aku tetap gelisah ingin pulang. "Radya, kamu tahu 
pangkalan taksi dekat sini?"
"Aku antar kamu pulang ya, atau..mau main hujan-hujanan dulu?" 
Radya masih saja menggodaku.
"Aku mau pulang saja ah, hujan tetap tak menarik untukku.."
"Oke Kirana, let's go...".
Radya mengantarku sampai ujung gang. Aku berjalan cepat 
ke arah rumah dan ketika membalik badan, Radya sudah 
hilang dari pandangan.
=== 
Dua peristiwa hujan, dan keduanya selalu melibatkan Radya. 
Sebuah kebetulan atau pertanda apa ini? 
Mengapa aku begitu memikirkannya? 
Aku kembali gelisah, Cuma mampu membolak-balik badan 
sambil memandang hujan di jendela. 
Dulu, aku  akan segera menutup tirai bila melihat hujan, 
tapi kali ini malah berusaha mengamati dengan teliti. 
Benar-benar aneh. Semua ini karena Radya.
Kubiarkan anganku melayang sampai jauh malam dan tertidur.
=== 

Aku terlambat bangun keesokan harinya. Setengah tergesa, 
aku berlari mengejar angkot menuju kantor. Untung hujan 
sudah reda tadi malam, aku bisa melenggang dengan nyaman.
"Pagi Pak Bejo, nih sarapan untuk bapak", Aku menyapa satpam kantor 
dengan riang.
"Mbak Rana, makasih ya, tumben nih pagi-pagi ceria banget.."
Aku cuma melambaikan tangan sambil berlalu ke ruang 
kerjaku. Sekitar 10 meter lagi sampai, aku mendengar 
pertengkaran hebat di ruang meeting.
Langkahku tertahan sesaat.

"Dia harus segera kita pindahkan, jangan sampai masalah ini 
bocor". 
"Baik pak, saya akan segera pindahkan dia ke outport".

Aneh. Aku tergelitik rasa penasaran, tapi rasanya tak 
mungkin aku bisa tahu ada apa. Aku cuma anak baru di 
kantor ini.Ah sudahlah, aku mengangkat bahu sambil 
beranjak ke meja.Sebelumnya aku sengaja mampir ke 
meja Radya dan menempel memo di mejanya.

Sampai nanti sore di cafe yaa.
===

Malam itu aku sengaja memilih tempat dekat jendela di cafe. 
Aku berharap Radya akan mudah melihatku sepulangnya dari 
kantor. Rana sibuk memainkan jemari.
Sekitar setengah jam menunggu, gerimis mulai turun. 
Kali ini, Rana tersenyum.
Dia tahu bahwa Radya akan muncul jika hujan datang. 
Mana ya?
Tak sabar rasanya ingin mengajak bicara.
Satu jam..Dua jam..Tiga jam...cemilan sudah ludes 
aku makan. Tapi Radya tetap tidak muncul di hadapanku. 
Aku merasa bodoh tidak pernah bertukar nomor ponsel 
dengannya. Rana berdiri
memandang hujan dibalik jendela. 
Radya, kenapa kamu tidak mau menemuiku?

Rana pun berjalan ke arah kasir dan membayar pesanannya. 
Baru saja menuju pintu, seorang pelayan memanggil namanya.
"Mbak, nama mbak..Rana?"
"Iya Mas, ada apa? Apa ada barang saya yang ketinggalan?" 
Aku membuka tas dan meraba dompet dan ponselku. 
Sepertinya semua lengkap.
"Ini Mbak, tadi ada seseorang yang menitipkan kertas ini untuk mbak. Tadi
saya ke meja Mbak, tapi Mbak sudah menuju kasir.."
Kertas? Aku mengucapkan terima kasih setelah mengambil 
kertas tadi.
Rana membukanya dengan segera.

Aku belum bisa bicara sekarang
Dan mungkin dalam waktu yang lama
Tetaplah tersenyum saat hujan, ya
Terima kasih untuk keceriaan kamu
Suatu hari kita akan ketemu lagi dalam hujan

Radya.

Aku melipat kertas itu dan melangkah gontai ke arah pintu. 
Rana berjalan ke arah halte, menembus hujan kecil tanpa 
payung. Belajar menikmati keindahan saat hujan. 
Karena Radya.
===

Sejak hari itu, aku seperti kehilangan jejak Radya. 
Hanya sedikit informasi dari bagian SDM kalau dia sudah 
mengundurkan diri.Susah payah aku menahan semua pertanyaan 
di benakku. Kenapa dia datang begitu cepat dan menghilang 
tanpa sedikitpun jejak.Perlahan aku mencoba menjalani 
hariku tanpa ada nama Radya. 
Sulit.
Butuh berbulan-bulan.
Bahkan tak terasa sudah setahun berlalu.

Berbanding terbalik dengan hujan. Hanya perlu hitungan hari, 
tahunan kebencianku akan hujan sudah berubah jadi 
cinta yang mendalam.

(bersambung)

Kapan.

Ada satu kata kapan yang sampai sekarang sulit saya jawab.

Tidak tahu apa penyebabnya.

Masih juga belum menemukan muaranya.

Saya cuma ingin kata ini berubah jadi Sekarang. Saat ini. Sudah. Akhirnya.

Saya menghela napas mengumpulkan serpihan semangat lagi….

 

Arti 35

Matahari masih belum nongol saat berbagai bunyi-bunyian sudah mulai ramai dari ponsel saya. Mulai sms, bbm sampai dentingan ym sangat menggoda saya untuk melirik. Hari ini, 29 Maret, saya tepat berusia 35 tahun. Tiara, keponakan saya dari jauh sana sudah berisik dengan sms nya. Seperti biasa, dia mau selalu jadi yang pertama untuk mengucapkan selamat 🙂 Beruntun kemudian semua sahabat dan keluarga saling mensupport dan mendoakan semua yang saya harapkan. Bahkan seorang dari masa lalu saya pun menyempatkan diri menyapa dan membuat saya terkaget-kaget karena dia tak pernah mengingat tanggal ini hahaha…Dia mengingatkan saya agar tidak nervous menjadi tua seperti dirinya …(gak mungkin banget siih...:)) Bahagia sekali rasanya membaca ratusan ucapan yang sebelumnya tidak saya duga. Tak henti saya mengucapkan Amin Amin Amin YRA…

35 tahun perjalanan hidup saya…

Emosi naik turun, tawa tangis bergantian mampu mengubah saya dari gadis cilik yang manja menjadi wanita dewasa yang tegar. Namun saya tidak ingin berhenti dalam kepuasan. Banyak hal yang rasanya masih belum saya lakukan dengan baik. Harapan yang satu masih berkejaran dengan asa yang lain. Tanpa berteriak pun, Sang Pencipta tahu persis apa yang ada di hati saya.

Semoga sisa umur saya menjadi bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Amin..

*Saya pun melanjutkan late supper di rumah sesudah bergulat dengan kemacetan. Nasi putih, tahu goreng dan sop ayam menemani saya malam ini…ahhh…sebuah perayaan yang sederhana”

Sekedar Membuang Penat Sejenak

Sekitar dua minggu yang lalu, saya pernah melempar sebuah status tentang apa yang harus dilakukan saat stress memuncak di kantor. Saat itu saya sedang benar-benar kehabisan energi di kantor…lembur hampir setiap hari sempat membuat saya seperti kehilangan diri sendiri.. ihhh cyeeeyyeeemmm….
Mau curhat sama sahabat-sahabat, kayaknya lagi pada sibuk tuh, jadi gak tega mau godain mereka… Alhasil saya iseng melempar survey kecil di atas.
Gak nyangka, saya jadi terbahak-bahak saat menerima masukan yang tak terduga itu. Mau tau?

  1. Erni : Buka fb ajah…(walah, malah jadi ga kerja dong judulnya..)
  2. Mbah Dar : Ke Lobby gih, nonton infotainment di TV (Lobbyku gak ono tipine, mbah :))
  3. Abang : Shopping atau karaoke aja (andaikan bisa ngabur, bang…saya ngamen dehh hehee)
  4. Mathias : Maen pingpong, bilyard, tinju atau PS3 (lha emangnya saya atlet opo…:))
  5. Lila : Kabur deh ke mall (yuk maree…:))
  6. Herry : Ngopi sambil mancing (aduuh, ga hobi euyy….:))
  7. Charma : Makan Enak (pastinya jeng..*jawab sambil ngunyah*..nyaaam)
  8. Wulan : Lempar monitor, CPU ama obrak-abrik kantor (yee…ntar saya dipecat dooong..)
  9. Ozan : Cari angin, makan angin, buang angin (ide yang aneh…hahaha)
  10. Masku : Bakar kantornya (hahahaa….ampuuun…)
  11. Vivi : Marahin bawahan (ga brani jeng, tar malah saya dilempar CPU kayak saran wulan :))
  12. Nenek : Belanja sale… (Itu mah gak usah nunggu stress, jeng…hehee)
  13. Di luar itu ide-idenya serius, mengingatkan saya untuk ambil air wudlu, sholat dan zikir..hmm…                                                                                                                       rasanya saya tak perlu gembar-gembor saat melakukan ini ..;).

Benar, saya tak menduga bahwa membaca komen-komen di atas bisa mencairkan kebekuan otak saya. Setidaknya saya bisa duduk sejenak mengalihkan perhatian dari ratusan surat elektronik yang menjenuhkan. Ahh, indahnya pertemanan memang selalu menularkan sesuatu yang positif.

Thanks so much, friend…kembali ke ‘laptop’ now…

Dibuang Sayang

Geli banget deh, menemukan tulisan ini…yang saya buat hampir 10 tahun lalu..
Antara mau delete file dan keep, akhirnya milih untuk diposting aja di blog pribadi..hitung-hitung untuk kenangan hehehe…
Ini benar-benar cerpen pertama yang berhasil saya selesaikan ternyata..
Dan sampai sekarang, saya malah tidak pernah berusaha menulis cerpen lagi.

So, istilahnya, tulisan ini…dibuang sayang!

Cahaya yang indah

Senja sudah semakin merah saat aku bergegas meninggalkan ruang kantor.
Sembari menempelkan ibu jari di mesin absen, tepat jam 17.23, aku teringat untuk harus sedikit berlari kalau tidak mau tertinggal bis langganan.

Belum sampai 50 meter, sebuah tangan kokoh menarikku dari belakang. Terlonjak kaget,aku berbalik badan dan sedikit lagi menabrak tubuhnya.
Aku mau bicara..“. Mukanya kacau.
Sambil menepis tangannya, “Aku buru-buru Mas. Maaf yaa..
Tidak bisa! Kamu tidak pernah memberiku kesempatan“. Mas Arya menghardikku.
Aku terdiam. Tak ingin membuat keributan di halaman kantor, aku menurut saja
saat Mas Arya membimbingku ke mobilnya.

Mobil bergerak pelan di antara kemacetan. Aku asyik memainkan jemari karena
sungguh aku tidak tahu mau berbincang apa.
Dia tersenyum sambil membelai rambutku..”Mas minta maaf ya, tadi nggak bermaksud kasar kok..”Tapi kenapa kamu melakukan ini, batinku.
Rasa penasaran akan sikapnya yang aneh ini menggerakkanku untuk
mengajaknya bicara baik-baik.
Kita makan malam dulu saja ya mas..Aku lapar..” Dia mengangguk senang.

~=~

Aku dan Mas Arya bukan sepasang suami istri bahkan kami bukan pasangan kekasih. Aku seorang wanita dewasa tanpa anak setelah mantan suamiku berlari ke pelukan wanita lain. Dia setahuku punya keluarga bahagia dengan satu anak yang luar biasa cantik. Kami berteman saat aku masih remaja namun dia sempat menghilang tanpa kabar. Saat dia kembali, kami sudah punya dunia sendiri-sendiri.

Pertemuan kami  pun tanpa disengaja. Saat itu aku sedang terburu-buru mengejar bosku, Mbak Sita, karena harus segera presentasi konsep promosi perusahaan di depan seluruh direksi PT Angkasa Jaya. Tangan kiri penuh dengan berkas, di tangan kanan menjinjing laptop. Aku memakai sepatu baru dengan hak tak kurang dari 7 cm. Jadi tambah susah aku mengejar langkah Mbak Sita. Tertatih dengan penuh keringat, kami berdua masuk ke ruangan rapat.

Masih penuh dengan keringat dingin, aku segera menyiapkan semua bahan. Sial.
baterai laptop pakai habis segala. Sambil berjongkok, aku mencari-cari stop kontak.
“Sebelah sini, Mbak”
Tanpa mendongak ke atas, aku segera menarik kabel ke arahnya. Sepertinya peserta rapat belum lengkap. Lega rasanya. Masih dengan posisi berjongkok, aku mengatur napas yang belum semua terkumpul.
“Apa kabar, Di..?”. Suara itu pelan, tapi begitu aku kenal. Aku tengadahkan wajahku ke arah suara itu.Sontak aku terkejut.Mas Arya. Iya, dia Mas Arya. Ngapain ya dia disini.
Dan seketika aku kehilangan kata-kata. Daripada salah tingkah, aku segera berdiri dan duduk di dekat Mbak Sita. Aku tak berani memandang wajahnya.Entah kenapa.  Bahkan aku lupa menjawab sapaannya.

Mas Arya ternyata salah satu direksi PT Angkasa Jaya. Sepanjang presentasi, Mbak Sita sangat lihai menjawab semua pertanyaan. Bosku ini memang sangat pintar. Aku memandangnyadengan kagum sambil sesekali mencuri pandang ke arah Mas Arya. Tak jarang dia juga melakukan hal yang sama. Ya Alloh, tolong aku supaya bisa konsentrasi.
Setelah hampir 3,5 jam, akhirnya presentasi selesai juga. PT Angkasa setuju
menggunakan jasa kami.Saat berpamitan, Mas Arya menyelipkan kartu nama di saku blazerku. Sambil menunggu mobil kantor menjemput di Lobby PT Angkasa, aku mengambil kartu nama
itu. Di baliknya ada tulisan kecil. “Aku kangen kamu, Nadia kecil..”
Nadia kecil. Cuma Mas Arya yang memanggilku dengan nama itu. Segera aku menepis rasa deg-degan. Aku tak ingin larut dalam romansa nggak jelas ini.Aku juga tidak pernah mengontak nomor teleponnya.

Selama enam bulan mengerjakan proyek PT Angkasa, aku dan mbak Sita sering bolak-balik ke kantor ini. Dan selama itu pula aku kucing-kucingan agar tidak bertemu muka dengan Mas Arya. Statusku yang seperti ini membuat aku menjaga diriku extra ketat. Aku tak ingin hubunganku dengan Mas Arya kembali dekat dan menyulut api perselingkuhan. Aku berada disini demi profesionalitas. Tidak lebih.

Mas Arya bukan diam saja. Dia berusaha dengan berbagai cara untuk mengajakku bicara. Dari mencari nomor ponselku lewat Mbak Sita, menghujaniku dengan puluhan sms, bahkan berkali-kali mengontak nomorku. Tetap aku tak bergeming. Aku tak ingin lagi dipermainkan
oleh laki-laki. Rasa trauma disaat perceraian akibat perselingkuhan suamiku telah membuatku bertekad tidak akan pernah merusak rumah tangga siapapun. Aku terlalu hancur dengan rasa traumaku. Bahkan aku menjadi bersikap dingin kepada semua laki-laki.

Tampaknya keputusasaan Mas Arya untuk mengajakku bicara membuatnya nekad menuju kantorku.
Sore itu aku menyerah.

~=~

Kami memasuki restoran di sebuah mal terkemuka. Sang pelayan memilihkan kami tempat di dekat jendela. Aku bisa leluasa memandang lampu-lampu di jalanan sana. Saat aku mengalihkan pandangan ke arahnya, Mas Arya menunduk dengan sedih. Ada apa sebenarnya semua ini?
Di..Nadia kecilku, apakah kali ini kamu mengijinkanku bicara?”
Masih tanpa kata, aku mengangguk pelan.

Mas Arya menikah 10 tahun yang lalu dan dikaruniai seorang putri cantik berumur 7 tahun. Arina, istrinya adalah seorang penari tradisional yang sering pentas di luar negeri. Mereka pasangan yang serasi. Namun kesibukannya sebagai penari membuat Arina sering lupa pulang. Dia lebih
senang berada di sanggar tarinya semalam suntuk ketimbang pulang dan mengurus Kiara, putrinya. Kiara lebih sering berada di tangan Mas Arya. Di tengah kesibukan di kantornya, Mas Arya selalu menyempatkan diri menemani Arina belajar meskipun melalui ponsel.

Aku semakin berani menatap wajah Mas Arya sambil mendengarkan ceritanya.

Suatu hari, Mas Arya pulang ke rumah lebih awal karena teringat janjinya pada Kiara untuk mengajaknya ke toko buku. Saat itu Kiara masih berumur 5 tahun. Setelah memarkir mobil di garasi, Mas Arya segera menuju ruang tamu.
“Kiara..kia…Papa pulang nih, ayo kita berangkat”. Aneh, tak ada jawaban.
Hanya si mbok yang menjawab sambil menangis “Ibu pergi membawa adek Pak, dia cuma meninggalkan ini”. Mbok Sum memberikan secarik kertas ke Mas Arya. Tulisan Arina yang singkat hanya menuliskan kalimat bahwa dia ingin mencari dunia yang baru bersama Kiara. Tidak ada kata maaf, tidak ada kata pamit. Mas Arya hanya mampu meremas kertas itu sambil menangis. Bukan Arina yang dia sesali, tapi Kiara, putri kesayangannya yang kini entah dimana.

Selama dua tahun Mas Arya sudah mencari Kiara dan Arina namun tanpa hasil. Perlahan-lahan dia mulai berdamai dengan keadaan dan semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Mas Arya sudah mengikhlaskan istri dan anaknya pergi meninggalkan dia. Sampai setahun berikutnya, dia berangkat ibadah umroh untuk mencari ketenangan batin.
Di tanah suci, Mas Arya tak henti memohon kelapangan hati baginya dan berdoa berharap kekuatan untuk menghadapi masalahnya. Dia  menghabiskan seluruh waktunya untuk bersimpuh dan berdoa.

Aku menitikkan air mata.

Nadia, di penghujung doaku di depan Kabah, aku melihat wajahmu yang bersih. Aku tahu, kamu adalah jawaban Alloh untukku. Meskipun aku tidak tahu harus bagaimana, aku percaya kamu akan menjadi milikku..Maafkan aku Nadia..Aku tak bermaksud menyakitimu dengan teror telepon dan SMS, tapi
aku sudah kehabisan cara untuk mengajakmu bicara…”

Aku menghambur ke pelukannya. Kudekap Mas Arya dengan sangat erat dan kuhapus semua airmatanya.

Sambil menggenggam tangannya, aku katakan padanya “Aku akan mendampingimu melewati masa sulit ini karena aku ingin melihatmu tersenyum lagi..”

Cahaya lampu di jalanan berpendar indah, sehangat hati kami yang dipenuhi cinta.

-Mei 2001, dianca-

 

Tinggal Kenangan

Hari ini tepat 2 tahun lewat 1 hari dia pergi meninggalkan saya. Tepatnya dia direnggut paksa oleh orang yang tak bertanggung jawab.. Hari ini, di tengah kemacetan, saya menemukan yang mirip sekali dengannya.

Saya kangen kamu.

Dengan tubuhmu yang mungil, kamu selalu mengajari saya mengalahkan yang namanya ketakutan. Seperti memberikan ketenangan, saya bisa melaju dengan kenyamanan tinggi kalau bersama kamu. Saya paling suka bernyanyi-nyanyi sendiri saat dekat kamu. Kamu begitu sabar mendengarkan. Kalau kamu masih ada, pasti saya sudah beredar ke seluruh tempat. Sayang, saya tak mampu lagi menemukanmu.

Dimanapun kamu berada, semoga kamu terjaga dengan apik ya Nak.. 😦

B2889AK – my channy – tinggal kenangan …